Penanganan Emosi Pasca Bencana(Tulisan 3 Habis)

ibu Wijiayati Pasien korban gempa asal desa imogiri (usia 42 th )yang di rawat di RS Sardjito memeinta cium Ibu Ani Yudhoyono

Sikap emosional pada seseorang atau komunitas yang terkena bencana adalah hal yang lumrah. Meskipun demikian, hal tersebut haruslah dikelola agar tidak menimbulkan persoalan baru yaitu STRESS yang berkepanjangan. Berikut cara menanggulanginya

  1. KETAKUTAN, PANIK DAN PENOLAKAN

Ketakutan mencakup:- Apatis;- Concern;- Takut;- Teror;- Panik;- Penolakan. Panik SANGAT DESTRUKTIF dan SANGAT MENULAR. Dalam banyak kasus, menangani kepanikan sering dijadikan sasaran dalam manajemen krisis. Namun dalam banyak kasus juga, sasaran itu justru salah karena kepanikan jarang terjadi, dan bukan itu yang paling utama ditangani. Dalam banyak kasus, otoritas penanganan krisis sering salah mempersepsi kepanikan. Orang-orang yang berlarian kesana kemari menyelamatkan diri, bukanlah bentuk kepanikan. Mereka hanya melakukan apa yang menurut mereka terbaik dan bisa dilakukan, yaitu menyelamatkan diri. Ini bukan kepanikan. Itu semua bukan bentuk kepanikan, sepanjang bermuara pada keselamatan dan tidak membahayakan orang lain. Lebih baik lagi, jika semua aktivitas itu dilakukan secara terkoordinir. Panik adalah segala aktivitas atau tindakan yang merusak atau membahayakan. Kekhawatiran terbesar dalam situasi krisis adalah penolakan. Penolakan adalah tanda yang lebih baik dari apatis alias rasa tidak peduli. Penolakan adalah bentuk kepedulian: terhadap persepsi dan pendapat sendiri. Ini berpotensi bisa dimanfaatkan. Apa yang penting, adalah bahwa pesan yang disampaikan tidak membuat mereka menjadi lebih takut, melainkan menjadi lebih berani mengambil tindakan yang kooperatif.

  1. PARANOID DAN VIGILANCE.

Sikap ini mencerminkan persepsi tentang tingginya suatu risiko. Saat komunikator meminta massa untuk sangat waspada, ia meminta mereka menjadi vigilant. “Awas!!” Peringatan keras seperti di atas harus diberikan secara spesifik dengan berbagai pembedaan agar tidak semua hal dipandang punya tingkat risiko yang sama. Jika hal ini gagal dilakukan, maka massa akan cenderung terdorong menjadi paranoid. Sikap vigilance dalam banyak hal masih lebih rasional. Ini berbeda dari paranoid, yang sama sekali telah kehilangan rasionalitas. Paranoid menjadi lebih berbahaya.

  1. EMPATI, PENDERITAAN DAN DEPRESI.

Empati mendorong kita untuk membantu. Makin tinggi tingkat krisis, musibah atau bencana, kesedihan akan bergeser menjadi penderitaan, duka lara dan nestapa. Semua ini harus diakui keberadaannya di dalam krisis, tanpa menjadikannya sebagai hambatan untuk penanganan lebih lanjut.

  1. LUKA DAN KEMARAHAN.

Dalam tingkat tertentu, kemarahan bisa menjadi alat yang fungsional dan cukup membantu. Namun jika itu telah bergeser menjadi amuk atau murka, maka ia kehilangan manfaatnya.Ini juga harus diakui, sehingga tidak memunculkan efek penolakan yang akan mengganggu jalannya proses penanganan krisis, musibah dan bencana.

  1. RASA BERSALAH.

Ada tiga sebab munculnya rasa bersalah:- Caretaker: mis; orang tua yang merasa gagal menyelamatkan anak-anaknya;- Survivor: orang yang selamat dari krisis, musibah dan bencana;- Rutinitas: kebiasaan dalam berbagai proses.

MENGKOMUNIKASIKAN JENAZAH DAN MAYAT KORBANMeyakinkan massa untuk segera mengurus jenazah bukanlah pekerjaan mudah. Massa yang sibuk dengan berbagai perasaan, ketakutan dan teror yang dialaminya, sering cenderung kurang kooperatif dalam mengurus jenazah dan mayat yang berserakan. Beberapa sebab di antaranya adalah berikut ini. Komunikasikannlah apa-apa yang perlu untuk menguranginya. 1. NAUSEAOrang merasa mual dan ingin muntah manakala menghadapi mayat dan jenazah yang memilukan. Segeralah komunikasikan kepada mereka tentang bahaya keberadaan mayat di tempat terbuka. Mayat manusia bisa membawa penyakit. 2. RASA BERSALAH SURVIVORMayat mengingatkan massa bahwa mereka “berhasil” dan mayat-mayat itu “tidak”. Menguburkannya sesegera mungkin akan membuat mereka segera mengalihkan pikiran dan perasaannya dari rasa bersalah itu. 3. KETAATAN PADA AGAMAAgama pada umumnya memerintahkan untuk sesegera mungkin mengurus mayat dan jenazah. 4. RESPEKMenyegerakan mengurus mayat dan jenazah, tidak hanya menghormati si mayat akan tetapi juga menghormati diri sendiri sebagai manusia. 5. SIMBOL RECOVERYBerseraknya mayat dan jenazah di mana-mana, menunjukkan situasi yang masih kacau dan bencana yang masih mencekam. Upaya pengurusan mayat dan jenazah menyimbolkan kebangkitan. Ini adalah perlambang proses normalisasi. 6. HANTU DAN TAKHYULSegera mengurus jenazah dan mayat akan menekan merebaknya kepercayaan dan takhyul yang menyimpang.

REKOMENDASI KOMUNIKASI PASKA KRISIS, MUSIBAH DAN BENCANA

  1. Katakan kepada setiap pihak yang perlu tahu;2. Katakan kepada setiap pihak yang sudah tahu atau ingin tahu; 3. Jangan “perkecil” apa yang telah terjadi;4. Jangan singkirkan informasi kerusakan yang terjadi; 5.Ungkapkan belasungkawa;6. Tunjukkan apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki keadaan;7. Lakukan investigasi publik;8. Diskusikan rumor, bahkan yang tidak masuk akal sekalipun; 9. Publikasikan info yang nyaris tidak terlihat; 10. Jadilah yang terakhir dalam “melupakan” krisis.

Semoga musibah dan bencana bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Amiiieen.

Leave a comment



Kirim Pesan

Kirim masukan dan kritik anda

Alamat Kantor

Jl.Cakrawijaya II ,
Blok J Nomor 10,
Kavling Diskum Jakarta Timur

Kontak Kami

Telepon 021-859012743/44

Faximile 021-8560408

Alamat Email

bamboedoea@bamboedoea.com

www.bamboedoea.com