Tekhnik Mengkomunikasikan Krisis, Musibah dan Bencana (Tulisan I)

Indonesia kembali menangis. Gempa mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah. Korban berjatuhan. Kita semua menangis dan berduka. Akan tetapi, kita mahfum bahwa segala upaya dan usaha harus tetap berjalan semampu yang bisa kita lakukan. Berikut ini adalah semacam panduan kasar tentang mengkomunikasikan krisis, musibah atau bencana. Sedikit banyak kita berharap bahwa ini bisa berguna tanpa kita mendoakan datangnya lagi musibah dan bencana. Tulisan ini sebagian besar disarikan dari materi Peter M sandman, Pakar Komunikasi Krisis. Semoga bermanfaat bagi siapapun yang terlibat dalam penanganan krisis, musibah dan bencana. EMPAT MACAM KOMUNIKASI KRISIS

1. RELASI PUBLIK: TINGKAT KERUGIAN TINGGI, REAKSI MASSA RENDAH

Reaksi massa yang rendah, berarti massa (dalam hal ini audience) yang apatis akibat shock atau ketakutan. Mengontrol massa ini adalah sangat sulit. Oleh sebab itu, komunikator — dalam hal ini bisa pejabat SAR, pejabat negara atau daerah, kepala unit reaksi tanggap darurat, ketua tim evakuasi atau bahkan kepala negara, harus memahami PESAN KUNCI yang harus disampaikan kepada masyarakat yang sedang kacau-balau.Gunakan SESEDIKIT MUNGKIN kata-kata, dan TEMUKAN CARA untuk membuatnya MENARIK PERHATIAN. Dalam situasi ini, massa yang dihadapi adalah massa yang sangat berkonsentrasi pada diri mereka sendiri-sendiri.Tugas utama komunikator dalam situasi seperti ini adalah MEMPROVOKASI REAKSI yang lebih besar dan TERARAH. Massa yang apatis adalah massa yang sangat besar.

MEDIA MASSA akan memegang peranan yang sangat penting. Hambatan akan muncul dari sisi:- Ketidakwaspadaan massa audience;- Besarnya massa audience;- Penolakan oleh media massa;- Kebutuhan untuk “mempaket” ulang pesan menjadi singkat dan berimplikasi kuat;- Implikasi berbagai kebijakan penanganan krisis.

Komunikator dalam hal ini hanya perlu MENDENGAR SEDIKIT saja berkaitan dengan pertimbangan, penolakan dan keberatan massa yang bersangkutan.Komunikator harus selalu siap untuk mengganti taktik dalam menangani krisis, saat massa audience mulai menunjukkan gejala mau bekerjasama.

2. RELASI STAKEHOLDER: TINGKAT KERUGIAN MODERAT, REAKSI MASSA MODERAT

Tidak seperti publik yang menjadi korban langsung dari krisis, musibah dan bencana, stakeholders lebih punya perhatian terhadap persoalan yang besar dan luas.Dalam hal ini, komunikator krisis harus mau MENDISKUSIKAN isu yang sedang terjadi dengan TERBUKA dan RASIONAL bersama mereka. Komunikator harus MENJELASKAN sudut pandang dan mau MERESPON pertanyaan dan pertimbangan dari pihak stakeholder.Stakeholders adalah segala pihak yang punya kemampuan untuk mengontrol massa, atau memiliki otoritas untuk ikut berkoordinasi di dalam krisis, musibah dan bencana, dan bukan massa yang menjadi korban krisis, musibah dan bencana itu sendiri.Komunikasi dengan para stakeholder sangat tergantung pada DIALOG ANTAR PERSONAL. Komunikasi ini bisa bergeser menjadi komunikasi yang sangat tidak efisien. Waspadalah tentang hal ini.Selain media massa umum, MEDIA MASSA KHUSUS sangat memegang peranan. Komunikator harus siap untuk menjelaskan DETIL TEKNIS. Audience inilah yang paling ingin mendengarkan soal teknis. Selanjutnya, biarkan para stakeholder ini yang menduplikasikan pesan-pesan yang akan dikomunikasikan.

3. MANAJEMEN MASSA: TINGKAT KERUGIAN RENDAH, REAKSI MASSA TINGGI

Ada saat di mana massa yang menjadi korban krisis, musibah dan bencana menjadi kacau-balau dan diserang kepanikan. Satu hal yang perlu dipahami oleh setiap komunikator adalah bahwa tingkat bahaya dari kepanikan itu sendiri biasanya RENDAH.Massa yang panik ini biasanya di-“provokasi” oleh sekelompok massa kecil yang histeris. Di sisi yang lain, ada kelompok lain dari massa yang mengobservasi dan memantau bagaimana berbagai kontroversi dan spekulasi berkembang.Dalam situasi ini, apa yang diperlukan dari seorang komunikator adalah MENDENGARKAN, MENGAKUI, MEMINTA MAAF dan BERBAGI KENDALI dengan massa, khususnya yang menjadi elemen “provokator”. Berbagai kontroversi biasanya akan berhenti manakala kelompok “provokator” ini bisa terpuaskan. Bentuk komunikasi terbaik dalam situasi seperti ini adalah DIALOG IN-PERSON, sekalipun massa biasanya akan mendominasi komunikasi. Kendala komunikasi yang terjadi di antaranya disebabkan oleh:- Agresifitas massa terhadap komunikator;- Agresifitas komunikator terhadap massa;- Kehilangan fokus untuk mengkomunikasikan substansi krisis;- Komplikasi atau kontradiksi dengan media komunikasi yang lain.

4. KOMUNIKASI KRISIS: TINGKAT KERUGIAN TINGGI, REAKSI MASSA TINGGI

Ini sangat jarang terjadi, namun bisa dipastikan akan terjadi dalam situasi krisis yang gawat seperti bencana alam. Massa atau audience-nya raksasa. Dan pada saat yang sama, dikuasai oleh amarah, kepanikan, ketakutan dan teror. KETAKUTANLAH yang sebenarnya menguasai massa ini.Tugas utama komunikator dalam hal ini adalah membantu massa menghadapi BEBAN, KETAKUTAN dan KEPILUAN yang dialami. Strategi kuncinya adalah:- Menghindari memberi pernyataan atau jaminan keselamatan yang berlebihan;- Melakukan sharing untuk berbagai dilema yang muncul dalam situasi krisis;- Bersikap manusiawi dan simpatik;- Penyediaan dan fasilitasi berbagai hal dan aksi yang bisa dilakukan;- Memantau dan memonitor berbagai ketidakpastian.Komunikasi krisis akan sangat tergantung pada MEDIA MASSA. Dan dalam hal ini, TIDAK TERLALU DIPERLUKAN ungkapan atau pernyataan yang diperhalus. Dalam situasi krisis SETIAP ORANG ADALAH STAKEHOLDER, termasuk para penonton dan pembaca media massa yang berada jauh dari tempat terjadi krisis, musibah atau bencana.

Kendala terbesar komunikasi dalam situasi ini adalah:- KEGAGALAN dalam MEMBEDAKAN metode komunikasi dengan tugas ke-PR-an yang rutin. Orang yang biasa berkomunikasi baik dalam situasi normal, dapat saja menjadi komunikator yang buruk dalam situasi krisis. Mereka harus bisa menyesuaikan diri dan metode komunikasinya dengan situasi yang sedang terjadi;- TEKANAN KRISIS itu sendiri. Apa yang perlu diingat oleh komunikator dalam situasi ini, adalah bahwa apapun yang dilakukan oleh massa yang panik dan dikecam teror, TIDAK ditujukan untuk menyerang komunikator. Bahkan, setiap bentuk kemarahan yang tertuju pada komunikator, HARUS DIABAIKAN sampai krisis berlalu.

Leave a comment



Kirim Pesan

Kirim masukan dan kritik anda

Alamat Kantor

Jl.Cakrawijaya II ,
Blok J Nomor 10,
Kavling Diskum Jakarta Timur

Kontak Kami

Telepon 021-859012743/44

Faximile 021-8560408

Alamat Email

bamboedoea@bamboedoea.com

www.bamboedoea.com