Bencana PR bisa datang dari mana saja, tidak melulu dari dalam tubuh perusahaan. Yang pertama adalah bencana alam. Media biasanya mendeskripsikan bencana alam sebagai sumber citra buruk – biasanya bagi turisme atau pemerintah negara bersangkutan. Kedua adalah aktivitas bisnis yang berdampak pada perusahaan satu grup. Ini terjadi saat minuman Coca Cola dan Pepsi di India dituduh berisi bahan kimia beracun. Yang ketiga adalah potensi konflik saat akuisisi perusahaan. Keempat adalah ketika isu dibawa ke pengadilan. Kelima adalah rumor – ini menimpa Procter&Gamble (P&G) yang dituduh menyiarkan satanisme dan logo mereka harus diganti. Keenam adalah perilaku staf. Ini terjadi saat Tragedi WTC dan staf Starbucks meminta pasukan penyelamat membayar air mineral yang dibutuhkan korban. Yang terakhir adalah favorit media, yaitu skandal keuangan dan seksual.

Gerry Mckusker, penulis Talespin: Public Relations Disasters, menyatakan setengah dari 10 Agensi PR besar dunia melakukan perbuatan serupa atau berpotensi terkena Bencana PR. Sebuah agensi PR terkemuka di Inggris harus membayar untuk statement buruk mengenai anggota parlemen dari Partai Konservatif. Ketchum, Konsultan PR besar Amerika, juga terkena skandal karena menyerahkan 250.000 US$ kepada media agar mengangkat program pendidikan pemerintah. Regulasi dari asosiasi PR di seluruh dunia pun belum banyak membantu karena tidak banyak Konsultan PR yang menjadi anggota asosiasi tertentu. Mckusker mengatakan perbandingannya adalah 6 : 1.

Ekspektasi ideal adalah semakin banyak Konsultan PR yang mengikuti rambu-rambu etika yang berlaku. Namun, terlepas dari ekspektasi tersebut, diharapkan identifikasi sumber Bencana PR ini bisa menimbulkan kewaspadaan – bahwa bahkan Konsultan PR pun berpotensi tertimpa citra buruk.