BERITA TERBARU

283_DSCF4550

Tim Non Deal Roadshow BUMN

Ada berita menarik di Bisnis Indonesia terbitan 7 April 2010 lalu. Di media bisnis paling bergengsi itu pada halaman depannya tercantum judul yang sangat menggembirakan sekaligus membanggakan. “Grup BUMN Paling Bersinar.” Demikian judul besar yang ditabalkan secara besar-besar. Tulisan yang disertai infografis menarik  tersebut menjelaskan emiten grup BUMN mendominasi pertumbuhan kinerja tertinggi tahun lalu, dengan rata-rata pertumbuhan laba bersih sebesar 81 persen. Total laba bersih emiten plat merah ini menembus Rp 32, 77 triliun. Sektor-sektor yang tetap akan bersinar pada tahun ini adalah perbankan, telekomunikasi, dan pertambangan yang diproyeksikan mampu menggenjot kinerja emiten badan usaha milik negara ini.

Seperti dikutip Bisnis Indonesia, Franco Sutedjowidjaja, Kepala Riset Ciptadana Sekuritas memproyeksikan lima konglomerasi dapat mencetak pertumbuhan kinerja khususnya laba bersih dan penjualan yang lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Hal ini terpicu oleh stabilitas pasar modal, tingkat suku bunga rendah, rupiah yang menguat, dan aliran dana pemodal asing. Data Bisnis Indonesia Intelligence Unit (BIUU) menyebutkan di antara lima grup konglomerasi penyumbang 53,68 persen kapitalisasi PT Bursa Efek Indonesia (BEI), hanya grup Bakrie yang kinerjanya kurang maksimal. Empat grup lain yakni BUMN tumbuh 81 persen, disusul Sinarmas 55, 61 persen, Salim mencapai 19, 46 persen, dan kelompok usaha Astra naik 11, 74 persen. Capaian tersebut mengubah peta rekor pertumbuhan laba antar konglomerasi.

Di antara perusahaan plat merah, PT Perusahaan Gas Negara Tbk menyumbang kenaikan laba bersih tertinggi sebesar 882, 72 persen. Dari sisi nominal, laba bersih dua emiten bank, yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT Bank Mandiri Tbk tercatat paling besar di antara BUMN,  masing-masing senilai Rp 7,31 triliun dan Rp 7, 19 triliun.

Kepala Riset PT Bhakti Securities Edwin Sebayang menilai laba bersih BRI berpotensi naik tahun ini menjadi Rp 9,10 triliun dari perolehan tahun lalu yang mencapai Rp 7, 31 triliun. Bank Mandiri juga diperkirakan tetap menunjukkan performa yang baik pada tahun ini. ”Tidak hanya BUMN perbankan, kinerja BUMN pertambangan seperti Bukit Asam dan Antam juga akan naik,” tutur Edwin seperti dikutip Bisnis Indonesia (07/04).

Tentu saja, apa yang digambarkan harian Bisnis Indonesia tersebut menjadi salah satu bukti bahwa saat ini pengelolaan BUMN sudah pada arah yang benar (On The Right Track) dan benar-benar menjadi kebanggaan bangsa.

Non Deal Roadshow

Di tengah masih adanya keraguan akan kinerja BUMN, bersinarnya konglomerasi grup BUMN memang terasa amat membanggakan. Untuk itulah, kondisi tersebut harus  dijadikan momentum yang baik untuk mendorong BUMN menjadi perusahaan kelas dunia. Mengapa? Karena secara kapasitas SDM maupun performance-nya, banyak BUMN yang tidak kalah kemampuannya dengan perusahaan asing/global yang telah mapan. Untuk itu, sejumlah langkah telah dipersiapkan kantor Kementerian BUMN untuk mentransformasikan BUMN sebagai perusahaan-perusahaan kelas dunia. Salah satunya yakni dengan menggelar kegiatan Non Deal Roadshow ke Singapura dan Hongkong pada 26-29 April lalu.

Non Deal Roadshow merupakan pemaparan situasi terkini perusahaan dan ekonomi Indonesia tanpa kontrak mengikat kepada calon investor asing. Kegiatan yang diprakarsai Kementerian BUMN dan BUMN yang berkecimpung dalam pengelolaan keuangan seperti Danareksa Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan Bahana Sekuritas bertujuan menarik minat investor asing menanamkan modalnya di pasar modal Indonesia.

Non Deal Roadshow juga bertujuan untuk menggambarkan kepada investor asing tentang langkah-langkah dan program kerja Kementerian BUMN dalam memanfaatkan pemulihan ekonomi Indonesia serta memberi gambaran BUMN yang akan melakukan Initial Public Offering (IPO) dan mendapatkan pandangan dari investor potensial. Kegiatan Non Deal Roadshow tentunya tidak terlepas dari kapitalisasi BUMN di pasar modal Indonesia yang terus menguat dan hingga saat ini mencapai 31,5 persen.

Selain menjadi salah satu negara yang tumbuh positif, Indonesia juga diuntungkan dengan rendahnya laju inflasi dan semakin menumpuknya cadangann devisa. Adapun kinerja pasar modal semakin membaik dengan naiknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekitar 12 persen sejak awal tahun hingga pertengahan April 2010. Dengan adanya Non Deal Roadshow, maka akan membuat arus modal yang masuk ke Indonesia menjadi tinggi sehingga akan mendongkrak harga saham. Peningkatan harga saham, akan menambah kapitalisasi pasar sehingga bisa menambah asset pemegang saham emiten. Atas dasar itu, Indonesia perlu agresif untuk mengundang calon investor asing masuk ke Bursa Efek Indonesia.

Dalam kegiatan Non Deal Roadshow ini, Kementerian BUMN membawa delapan BUMN yang sudah listed seperti Aneka Tambang, Bank Mandiri, BNI, BRI, PGN, Jasa Marga, Bukit Asam, dan Telkom. Dua perusahaan yang akan go public seperti Garuda Indonesia dan Krakatau Steel juga diikutsertakan. Selama kegiatan Non Deal Roadshow berlangsung di Singapura,  Kementerian BUMN telah mengundang sekitar 50 perusahaan yang memiliki minat besar untuk memiliki saham di BUMN Indonesia. Untuk kegiatan Non Deal Roadshow di Hongkong, pemerintah juga telah mengundang sekitar 50 perusahaan yang akan menjadi calon investor.

Untuk memaksimalkan publikasi kegiatan Non Deal Roadshow, sejumlah upaya media relations juga diintensifkan, baik sebelum acara maupun saat kegiatan berlangsung di Singapura dan di Hongkong. Sebelum kegiatan Non Deal Roadshow berlangsung misalnya, diadakan diskusi media (media update) bertajuk  “Membedah Kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Pasar Modal” yang diselenggarakan Danareksa. Diskusi media yang digelar di Hotel Grand Hyatt, Jakarta menghadirkan Equity Capital Market PT Danareksa Chandra Pasaribu, Direktur Utama PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Kahlil Rowter dan Direktur Utama PT Danareksa (Persero) Edgar Ekaputra sebagai narasumber. Antusiasme wartawan untuk meliput kegiatan tersebut terbilang besar mengingat jumlah wartawan yang datang mencapai 100 orang.

Selain itu, pada setiap kali jumpa pers beberapa kali Menteri BUMN Mustafa Abubakar memberikan penjelasan tentang Non Deal Roadshow. Begitu pula saat acara berlangsung, kegiatan wawancara mendalam dengan narasumber selalu diagendakan.

Kegiatan Non Deal Roadshow memang terbukti tidak sia-sia. Muhibah bisnis Non Deal yang berlangsung di dua negara ini, telah berhasil menjaring komitmen investasi senilai lebih dari Rp 100 triliun. Dalam pandangan Mustafa, hal tersebut merupakan hasil yang bagus sekali. Apalagi investor yang datang dan tertarik merupakan investor global ternama.

Besarnya minat investasi itu menunjukkan respons yang sangat positif para investor global terhadap prospek perekonomian Indonesia. Lebih khusus lagi respons positif atas kinerja BUMN di pasar modal.

Non Deal Road Show: Terobosan Inovatif

Non Deal Roadshow terbilang kegiatan terobosan yang inovatif. Pasalnya, kegiatan muhibah bisnis tanpa kontrak mengikat ini tidak hanya berhasil menjaring komitmen investasi senilai lebih dari Rp 100 triliun dari para calon investor asing, tapi juga cukup sukses mendominasi pemberitaan bidang ekonomi dan bisnis di hampir semua surat kabar dan media online. Boleh dibilang, kegiatan yang diselanggarakan Kementerian BUMN bersama BUMN yang berkecimpung dalam pengelolaan keuangan ini, benar-benar menyedot perhatian media.

Selama empat hari berlangsung, pemberitaan tentang Non Deal Roadshowselalu  menghiasi rubrik ekonomi dan bisnis media massa. Tidak tanggung-tanggung jumlahnya mencapai 30 pemberitaan. Istimewanya, selama kegiatan Non Deal Roadshow berlangsung, hampir tidak pernah ada tone pemberitaan yang negatif. Semua pemberitaan, merespon positif kegiatan Non Deal Roadshow tersebut.

Dari segi pemberitaan, kegiatan Non Deal Roadshow memang benar-benar menawarkan news value yang tinggi bagi kalangan media. Mengapa? Sebab selama ini berita-berita tentang BUMN selalu diwarnai oleh aksi-aksi korporasi masing-masing BUMN.  Untuk itulah, tidak ada salahnya bila event semacam Non Deal Roadshow ini juga terus diadakan. Tentunya dengan konsep dan terobosan yang lebih menarik sehingga dapat memperoleh news value yang lebih tinggi.

278_IMG_0528

Suasana persiapan talkshow PU

Setengah jam sebelum masuk studio, wajah Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Budi Yuwono, terlihat gelisah. Raut mukanya menampakkan ketegangan. Apalagi setelah mendapat informasi Menteri Perumahan Rakyat, Soeharso Monoarfa yang sedianya menjadi narasumber utama, mendadak batal datang. Situasi menjadi tidak karuan. Budi Yuwono, yang selama ini terkenal sebagai pejabat yang ramah, langsung termenung, dan bertanya-tanya ada apa ini?

Sepuluh menit kemudian, Budi Yuwono yang juga narasumber program talk show  Public Corner Metro TV bertajuk “Urbanisasi berkelanjutan: Tanggung Jawab Siapa?”diminta masuk ke studio karena acara akan dimulai. Singkat cerita, usai talk show wajah Budi tampak sumringah. Perasaannya lega karena berhasil melewati talk show dengan baik. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan presenter, dijawab dengan lugas dan artikulatif. “Tidak memalukan kan penampilan saya, “ ujarnya bangga.

Itulah sekelumit persiapan program talk show “Public Corner” Metro TV dengan  narasumber dari Kementerian PU. Sebelumnya, pada program yang sama juga pernah tampil Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak, Direktur Jalan dan Jembatan Wilayah Barat, Hediyanto W. Husaini, dan Direktur Penataan Ruang Wilayah II Sri Apriatini Soekardi. Herman Dardak terlihat lebih percaya diri dan santai sebelum talk show berlangsung. Sementara Sri Apriatini, dengan tekun membaca beberapa catatan ringkas yang sengaja dibuatnya sebelum memasuki studio. Hasilnya, saat talk show berlangsung, Sri Apriatini tampak sangat menguasai persoalan pengarusutamaan gender yang menjadi tema talk show. Dengan komunikatif, dia dapat menjawab setiap pertanyaan yang diajukan presenter dengan baik.

Talk Show Kementerian Pekerjaan Umum juga berlangsung di TVRI setiap pukul enam pagi. Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum Agoes Widjanarko terpaksa harus datang sebelum pukul enam pagi untuk mengisi acara talk show tersebut. Sementara, Dirjen Bina Marga, Joko Muryanto terpaksa harus menunggu sekitar setengah jam saat rekaman pengambilan gambar program talk show karena terganggu  masalah teknis di studio yang tidak bekerja dengan baik. Beruntung, pada menit-menit terakhir, masalah kerusakan teknis dapat diatasi. Rekaman pun langsung dimulai.  Pejabat Kementerian Umum lainnya yang pernah menjadi narasumber talk show di TVRI adalah : Direktur Irigasi Ditjen SDA, Imam Agus Nugroho serta  Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Investasi, Setia Budhy Algamar.

Begitulah. Sejak program Intagrated Communications Kementerian Pekerjaan umum bergulir, kesibukan awak Pusat Komunikasi Publik (Puskom-PU) Kementerian Pekerjaan Umum semakin bertambah. Bermitra kerja dengan Bamboedoea Communications, mereka intensif melakukan program sosialisasi dan komunikasi seputar berbagai hal tentang pekerjaan umum yang tengah menjadi wacana publik. Dari beragam aktivitas komunikasi yang digelar, program talk show di stasiun teve merupakan kegiatan yang menuntut perhatian yang lebih besar. Semua itu, tentu saja semata-mata agar hasil dan manfaat program talk show bisa berdampak lebih maksimal bagi masyarakat.

300_otda

Memang persoalan otonomi daerah dapat dikatakan cukup kompleks dan banyak dimensi, karena tidak hanya menyangkut persoalan hukum dan pemerintahan saja, tetapi juga terkait aspek ekonomi, sosial, politik, budaya, hankam, dan bidang lainnya. Belum lagi pendapat yang menganggap bahwa sebagai negara kesatuan dengan wilayah yang begitu luas (dalam bentuk pulau-pulau) serta didiami ratusan etnis yang berbeda, akan sangat sulit menerapkan otonomi daerah. Berbagai tantangan inilah yang telah diemban Ditjen Otda selama 10 tahun. Ditjen Otda adalah ‘jembatan’ untuk meretas berbagai tantangan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia dengan memformulasikan berbagai kebijakan agar tercipta efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan pemerintahan yang desentralistik dalam wadah NKRI.

Melihat persoalan ini, penyebaran informasi secara komprehensif terkait penerapan dan kebijakan otonomi daerah menjadi sesuatu yang penting. Selain desiminasi dengan format konvensional seperti tatap muka, seminar, pertemuan, dan lainnya, mulai tahun ini Ditjen Otda menggandengan Bamboedoea Communication menggunakan medium tulisan jurnalistik untuk mengabarkan update terbaru tentang perkembangan otonomi daerah dan kebijakan kepada para stakeholders-nya terutama pemerintah daerah.

News letter Info Otda menyajikan berbagai kebijakan perkembangan terbaru tentang otonomi daerah yang dikemas dengan gaya penulisan jurnalistik yang ringan dan menarik dibaca. Berbagai peristiwa perkembangan otonomi daerah juga diulas secara menarik dan komprehensif. Selain rubrik tetap wawancara dengan Ditjen Otda, di dalam newsletter ini juga tersaji kabar perkembangan penerapan otonomi daerah dari berbagai kabupaten/kota yang ada di Indonesia.

FOTO KEGIATAN

Kirim Pesan

Kirim masukan dan kritik anda

Alamat Kantor

Jl.Cakrawijaya II ,
Blok J Nomor 10,
Kavling Diskum Jakarta Timur

Kontak Kami

Telepon 021-859012743/44

Faximile 021-8560408

Alamat Email

bamboedoea@bamboedoea.com

www.bamboedoea.com