Membumikan REDD+

Dibanding isu politik dan hukum, pengetahuan masyarakat Indonesia tentang isu lingkungan hidup dan perubahan iklim sangat minim. Selain menganggap isu ini tidak begitu menarik, terdapat juga kesan di masyarakat bahwa isu terkait lingkungan dan perubahan iklim sulit untuk dipahami, berbeda dengan isu politik atau hukum yang hampir tiap hari mereka saksikan di televisi atau baca di koran. Selain tidak familiar di kuping masyarakat, isu ini dianggap hanya dipahami oleh orang-orang dengan latar keilmuan tertentu saja. Bahkan ada anggapan, penggiat lingkungan hidup terlalu international minded  dan ‘terlalu asik’ dengan berbagai istilah-istilah ilmiah perubahan iklim.

\Minimnya kepedulian terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim juga melanda negara-negara di dunia lain. Survei yang dilaksanakan oleh universitas Oxford/Nielsen pada Oktober 2009 menunjukkan hanya 37 persen responden dari 54 negara yang peduli pada perubahan iklim. Jumlah ini menurun dari 41 persen pada jajak pendapat dua tahun sebelumnya (Kompas, 7/12/2009). Data dari Pusat Informasi Kompas mencatat dalam kurun waktu lima tahun (2005-2010) berita terkait perubahan iklim sebanyak 1.900-an berita yang di dominasi berita tentang pertemuan tentang perubahan iklim yang berskala internasional. Bandingkan dengan berita terkait korupsi dan pemilu/pemilukada yang jumlah beritanya di atas 9.000 berita.

Jika kepedulian dan pengetahuan masyarakat terkait isu tentang lingkungan hidup dan perubahan iklim saja minim, bagaimana dengan isu turunannya? Meningkatkan kesadaran publik terhadap isu lingkungan dan turunan inilah yang coba dilakukan United Nation Development Programme (UNDP) lewat program “Provision of Public and Communications Consultancy in Support of the REDD+ Task Force”. Program ini bertujuan untuk meraih dukungan masyarakat Indonesia dan internasional terkait implementasi program Reduction of Emissions from Deforestation and Degradation in Developing Countries (REDD+ atau pengurangan emisi yang berasal dari penurunan perusakan hutan dan tutupan hutan di negara berkembang). Lewat tender terbuka yang diikuti perusahaan konsultan termuka di Indonesia dan asing, UNDP menjatuhkan pilihannya kepada Bamboedoea Communication untuk mengelola program ini. Fokus dari program ini adalah mempersiapkan dokumen strategi komunikasi untuk Badan pegelola program REDD+.

Dalam pembuatan dokumen strategi komunikasi ini, prinsip yang dipegang Bamboedoea adalah bagaimana isu lingkungan hidup dan perubahan iklim, khususnya program REDD+ mudah dimengerti dan dipahami masyarakat. Terlebih lagi, target utama pengenalan REDD+ ini adalah masyarakat di daerah terutama masyarakat kawasan hutan dan masyarakat adat. Perlu ‘pembumian’ isu REDD+ agar masyarakat awam bisa memahami manfaat program ini. Selain itu,  strategi kampanye nasional REDD+ juga menjadi rancangan strategi komunikasi utama Bamboedoea. Program REDD+ ini akan berhasil jika semua lapisan masyarakat Indonesia mengerti dan memahami begitu banyak manfaat program ini bagi Indonesia, tidak hanya saat ini tetapi di masa mendatang. Isu lingkungan hidup dan perubahan iklim yang sudah menjadi isu dunia, juga menjadi perhatian Bamboedoea dalam perancangan strategi komunikasinya.

Selain isu REDD+ yang masih relatif sedikit dipahami masyarakat Indonesia, perancangan dokumen strategi komunikasi yang komprehensif, terintegrasi, dan mudah diimplementasikan menjadi penting. Karena itu perancangan dokumen strategi komunikasi diupayakan selengkap dan sepraktis mungkin. Penyusunan dokumen mulai dari  PR dan strategi komunikasi, media dan krisis manajemen, public outreach educationmessaging dan brandingmulti stakeholder management, hingga genaral public customer dan sosialisasi lewat social media(facebook, twitter, youtube, dll) dibuat dengan lengkap dan mudah diimplementasikan.

Selain merancang strategi komunikasi, Bamboedoea juga menyiapkan dokumen sturuktur organisasi komunikasi Badan REDD+ jika nanti terbentuk, lengkap dengan panduan metode perekrutan sumber daya manusia, pelatihan, dan penguatan kapasitas komunikasi. Benang merah dari semua dokumen ini adalah bagaimana isu REDD+ bisa membumi dan menjadi diskursus di semua lapisan masyarakat Indonesia. Memang tidak mudah, tetapi juga bukan pekerjaan yang sulit jika orang-orang yang paham isu ini tidak ‘asik sendiri’ dan mau menyederhanakan penyampainnya kepada publik. Dokumen strategi komunikasi sudah tersedia, tinggal Badan REDD+ menjalankannya.

Leave a comment



Kirim Pesan

Kirim masukan dan kritik anda

Alamat Kantor

Jl.Cakrawijaya II ,
Blok J Nomor 10,
Kavling Diskum Jakarta Timur

Kontak Kami

Telepon 021-859012743/44

Faximile 021-8560408

Alamat Email

bamboedoea@bamboedoea.com

www.bamboedoea.com