websiteedit0JUN5889

Grand Launching “Jakarta Memanggil” untuk Jakarta Bebas HIV-AIDS 2030 Dikemas Penuh Kreativitas

Siaran Pers

Bamboedoea Komunikasi dipercaya mengelola berbagai program komunikasi “Jakarta Memanggil”. Jakarta Memanggil adalah sebuah program dari Dinas Kesehatan DKI Jakara yang didukung oleh USAID / LINKAGES. Program ini berupa gamifikasi yang bertujuan mengajak seluruh petugas kesehatan, terutama petugas Puskesmas dan klinik untuk melakukan aksi-aksi percepatan penanggulangan HIV-AIDS yang terencana dan terpadu dalam rangka mewujudkan Jakarta Bebas AIDS Pada 2030. Salah satu program komunikasi “Jakarta Memanggil” yang dikelola Bamboedoea adalah menggelar grand launching Jakarta Memanggil yang digelar di Gedung RRI, Jakarta, Selasa (12/2/2020).

Untuk menghindari kesan seremonial seperti yang biasa disaksikan dalam peresmian-peresmian program, peluncuran Jakarta Memanggil dikemas penuh kreativitas. Dengan konsep acara “Magazine Show” yang dikemas dalam pertunjukan teater dan dialog berupa talk show menjadikan acara grand launching Jakarta Memanggil berlangsung menyenangkan tetapi tetap sarat makna sehingga pesan acara sampai ke semua audience. Acara semakin meraih karena diselingi parade budaya berupa tarian Lenggang Nyai, live band performance, multimedia atraktif, dan berbagai games serta dipandu oleh komedian ‘Kelik Pelipur Lara’. Para peserta juga diberi ruang membagikan moment terbaiknya di grand launching ini dengan berfoto di photo booths dan membagikan keseruannya di media sosial masing-masing. Foto yang paling menarik mendapatkan doorprize.

Menuju Jakarta Bebas HIV-AIDS 2030

DKI Jakarta merupakan empat besar provinsi dengan jumlah kasus HIV dan AIDS terbanyak di Indonesia bersama dengan Papua, Bali dan Jawa Timur. Estimasi Kementerian kesehatan  menyatakan ada 109.676 ODHA (Orang dengan HIV AIDS) di Jakarta. “Namun yang terdeteksi saat ini baru 65.606. Masih ada 40% yang belum bisa kita deteksi.” Demikian dikatakan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr. Widyastuti, MKM dalam Peluncuran Jakarta Memanggil, Selasa (11-02-2020) di Auditorium Abdurahman Saleh RRI.

Dalam mengatasi permasalahan HIV-AIDS di Jakarta, pemerintah DKI Jakarta, kata Widyastuti, telah menginisiasi beberapa komitmen seperti dalam bentuk regulasi dengan menerbitkan Perda No.5/2008 Tentang Penanggulangan AIDS dan pembiayaan program. Selain itu, ada juga komitmen menyediakan fasilitas layanan kesehatan berupa tes HIV, pengobatan HIV dan pemantauan keberhasilan pengobatan serta komitmen untuk terus melakukan inovasi program.  

Sejak Januari 2019 tahun lalu, DKI Jakarta juga telah me-launching  Jak Track yang telah digunakan  oleh lebih dari 70 Puskesmas (Kecamatan dan Kelurahan), Klinik Swasta dan Rumah Sakit di DKI Jakarta. Selama Januari-September 2019, dengan Reservasi Online yang telah diterapkan di 35 Puskesmas dan RSUD di Jakarta, terdapat 2.910 booking test HIV yang dibuat dan lebih dari 500 klien telah merasakan mudahnya akses ke layanan HIV melalui fasilitas ini. Selama tahun 2019, 809 mobile VCT telah dilakukan di Puskesmas dengan total 18.866 klien telah melakukan tes HIV dengan angka temuan kasus 10% dari total tes. Mobile  VCT atau Dokling pelaporannya dilakukan menggunakan Jak-Track dan bisa dengan mudah langsung diakses oleh LSM penjangkau. Dengan berbagai kemudahan yang telah Jak-Track hadirkan, semoga ke depan penggunaan Jak-Track bisa lebih optimal dan dapat memudahkan petugas layanan kesehatan dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di DKI Jakarta.

Lebih jauh Widyastuti  mengatakan sudah menjadi pakem untuk isu public health, bahwa tidak ada program public health yang berhasil tanpa partisipasi masyarakat. Demikian juga dengan upaya mengatasi masalah HIV AIDS. Oleh karena itu, Widyastuti mengapresiasi  dukungan dan bantuan teknis USAID / LINKAGES yang telah menginisiasi “Jakarta Memanggil” yang merupakan  sebuah gamifikasi yang bertujuan mengajak seluruh petugas kesehatan, terutama petugas Puskesmas dan klinik untuk melakukan aksi-aksi percepatan penanggulangan HIV-AIDS yang terencana dan terpadu dalam rangka mewujudkan Jakarta Bebas AIDS Pada 2030.

Untuk mencapainya, “Jakarta Memanggil” mengajak petugas kesehatan menerapkan inovasi-inovasi program, menggunakan data, memanfaatkan ICT, mengoptimalkan sumber daya yang ada dan merespon berbagai tantangan secara cepat. Jakarta Memanggil percaya langkah-langkah kecil yang strategis dan berkelanjutan akan berdampak besar bagi penanggulangan HIV-AIDS di Jakarta.

Erlian Rista Aditya, Associate Director for Technical FHI 360 mengatakan “Jakarta Memanggil” adalah sarana penyaluran semangat para petugas kesehatan untuk melakukan perubahan dan mencapai tujuan agar semua orang terdampak HIV-AIDS mendapatkan perawatan dan pengobatan. Gamifikasi Jakarta Memanggil akan memotivasi seluruh petugas Puskesmas kecamatan dan klinik mitra di Jakarta terutama kepada unit layanan tes HIV dan PDP (Perawatan, Dukungan dan Pengobatan), untuk menanggulangi HIV secara lebih baik. Untuk itu, kata Erlian, Jakarta Memanggil akan berkontribusi lebih optimal apabila Suku Dinas Kesehatan Kota meningkatkan koordinasi semua upaya penanggulangan HIV-AIDS di wilayahnya melalui penguatan-penguatan kepada petugas kesehatan terdepan yakni Puskesmas dan klinik mitra.

“Petugas kesehatan dari 42 Puskesmas kecamatan dan 4 klinik mitra di Jakarta akan berkompetisi mencapai target-target program sesuai dengan inisiatif global bernama Fast-Track: Cities Ending the AIDS Epidemic by 2030,” ujar Erlian.

Inisiatif Fast-Track mengajak semua kota-kota besar di dunia untuk mencapai tujuan 90-90-90: 90% ODHA mengetahui status HIV-nya, 90% mereka yang didiagnosis positif HIV mendapatkan dan tetap dalam pengobatan ARV, dan 90% mereka yang berobat mencapai supresi viral load sebagai tanda pengobatannya berhasil. Inisiatif Fast-Track ini juga sejalan dengan inisiatif akselerasi nasional pengobatan HIV dari Kementerian Kesehatan RI.

Puskesmas dan klinik mitra dapat berpartisipasi dalam gamifikasi Jakarta Memanggil dengan cara mendaftar ke website Jakarta Memanggil, membuat akun, memilih aksi-aksi Fast-Track yang akan dimainkan, mengunggah laporan pencapaian aksi-aksi tersebut, mendapatkan verifikasi hasil pencapaian aksi-aksi yang dipilihnya, dan mengklaim insentif yang telah disediakan. Peserta yang berhasil pada level satu akan naik ke permainan pada level dua dan seterusnya.

Secara intensif, gamifikasi Jakarta Memanggil akan dilakukan pada bulan Februari-April 2020. Seterusnya sampai dengan September 2020 akan dilakukan sesuai dengan kebutuhan.

covid-19-outbreak-image-1200x671EDIT

Komunikasi Krisis: Strategi Komunikasi Dikala Pandemi

Dalam situasi pandemi Covid-19 seperti yang terjadi saat ini, komunikasi publik menjadi pedoman dan panduan bagi masyarakat. Oleh karena itu agar tercipta partisipasi masyarakat sebagai barisan paling depan dalam penanggulangan Covid-19 semua kebijakan dan informasi publik yang keluar dari Pemerintah harus terukur dan tepat sehingga tidak tidak ditafsirkan berbeda-beda (multitafsir) oleh masyarakat. Komunikasi publik yang buruk di saat krisis seperti ini bukan hanya akan membingungkan masyarakat, tetapi juga membuat publik enggan patuh, disiplin, dan partisipasi dalam setiap kebijakan penanggulangan Covid-19. Selain itu yang tidak kalah penting, komunikasi di kala pendemi harus didasari atas transparansi, tetapi dalam mengomunikasikannya harus mampu membuat publik merasa tenang dan terlindungi.

Komunikasi krisis adalah strategi tepat yang dijalankan saat pandemi seperti ini. Komunikasi krisis dapat diartikan sebagai penyampaian pesan antara Pemerintah dan publik untuk menyamakan persepsi dalam penanganan krisis (sebelum, selama, dan setelah krisis) yang menggunakan semua alat dan saluran komunikasi (kehumasan), dalam rangka memelihara dan memperkuat reputasi Pemerintah dalam situasi krisis.

Hal paling strategis dalam menjalankan komunikasi krisis adalah perencanaan penanganan komunikasi krisis. Perencanaan ini merupakan langkah paling awal untuk menghadapi krisis sebagai acuan untuk penanganan krisis. Perencanaan berisi antara lain, ketentuan tentang langkah-langkah yang harus diambil, penanggung jawab, dan pejabat yang ditugasi menjadi juru bicara utama mewakili pemerintah dalam mengomunikasikan hal-hal yang harus dilaksanakan dan/atau dicegah. Ketika krisis terjadi, perencanaan komunikasi krisis harus segera dijalankan.

Krisis dapat menimbulkan opini publik baik yang positif maupun negatif. Untuk itu, perlu dilakukan komunikasi intensif kepada publik agar publik tidak mendapat informasi yang keliru sehingga mereka tidak mencari dari sumber-sumber informasi yang tidak tepat. Untuk mendorong partisipasi dan membangun opini publik yang positif, perlu disusun perencanaan komunikasi krisis, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: pertama, menyiapkan pesan-pesan kunci dan antisipasi pertanyaan publik tentang hal-hal yang terkait dengan krisis. Kedua, bersikap profesional, transparan, jujur, dan tidak spekulatif, apalagi berbohong atau sekedar menduga-duga. Ketiga, memperhatikan isu-isu dan kerisauan publik tentang informasi yang tidak jelas sumbernya dan kontroversial. Keempat, memberikan informasi terkini secara cepat, akurat, dan berkesinambungan. Kelima mengklarifikasikan informasi yang salah sesegera mungkin dan terus menerus mengikuti perkembangan situasi dan memberikan respons.

Setelah itu, langkah yang perlu dilakukan adalah berbagai pengembangan dari perencanaan komunikasi krisis, antara lain agar dalam menangani krisis lebih optimal, efektif, dan efisien. Beberapa pengembangan antara lain: Pertama, Mengidentifikasi Tim Komunikasi Krisis. Tim komunikasi krisis harus terseleksi sesuai dengan kemampuan dan harus diumumkan ke publik. Kedua, menujuk juru bicara. Juru bicara yang berhadapan dengan media harus benar-benar orang yang terseleksi di mata publik karena merepresentasikan kemampuannya terutama secara keahlian dalam menghadapi krisis dalam hal ini pandemi.

Ketiga, menyiapkan pesan kunci. Mempersiapkan pesan kunci sedini mungkin akan membantu dalam pengelolaan isu dan mampu menyajikan informasi yang konsisten kepada publik. Pesan kunci tesebut harus akurat, singkat, mudah dicerna, dan mengesankan. Pesan kunci yang efektif adalah mampu mencegah terjadinya salah kutip pemberitaan, sekaligus menjaga kredibilitas organisasi/Pemerintah dalam krisis. Keempat, updating situs/website dan akun media sosial. Menyajikan informasi terkini dalam situs/web dan akun media sosial Kemenkes dapat mengurangi jumlah telepon yang masuk dan waktu yang dibutuhkan untuk keluar dari krisis.

Kelima, menyiapkan pertanyaan simulasi. Ketika krisis tiba, kegagalan memprediksi pertanyaan dari jurnalis dan publik akan membuat penanganan krisis oleh Pemerintah akan terlihat buruk. Oleh karena itu, tim komunikasi krisis harus mampu memberikan bahan/data yang akurat terhadap permasalahan dan krisis yang terjadi sehingga juru bicara dapat mengolahnya dan mempersiapkan diri dengan minimal 10 pertanyaan yang akan disampaikan oleh jurnalis dan publik. Terakhir, selalu siapkan informasi pendukung.  Selalu siapkan semua informasi pendukung mulai dari berbagai regulasi, foto, video, struktur dan tupoksi organisasi, dan data-data lain sesuai dengan isu yang menjadi krisis.

Di era keterbukaan publik dan pesatnya kemajuan teknologi informasi saat ini penanganan krisis sepeti pandemi yang terjadi saat ini bisa menjadi semakin sulit namun bisa menjadi semakin mudah, tergantung strategi penangangannya. Oleh karena itu, penanganan komunikasi krisis yang aplikatif menjadi penting dipunyai oleh Pemerintah.

Industrie-4-0-1170x658

GPR Di Era Revolusi Industri 4.0

Adaptasi Adalah Kunci

Kemajuan pesat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berdampak luas ke barbagai sendi kehidupan manusia. Bahkan, sebagai sebuah revolusi teknologi yang serbaguna (general purpose technology), TIK menjelma menjadi pendorong utama perubahan warga dan bangsa-bangsa di dunia. TIK juga lah yang membawa kita ke era saat ini yaitu Revolusi Industri 4.0 yang ditopang dengan perkembangan big data and analytics, augmented reality, addictive manufacturing, the cloud, cyber security, internet of things (IoT), horizontal and vertical system integration, autonomous robots, dan simulation.

Praktisi Kehumasan yang juga CEO Bamboedoea Komunikasi Hari Rakhmadi mengungkapkan, saat ini dunia Public Relations (PR) termasuk Government PR atau humas pemerintah menjadi salah satu sektor yang terimbas oleh kemajuan TIK. Di era revolusi industi saat ini, GPR dituntut untuk beradaptasi. Kemajuan TIK secara dinamis sudah mengubah pola dan alat komunikasi.

“Setidaknya terdapat lima keharusan GPR di era revolusi industri 4.0 yaitu mempunyai kompetensi, kemampuan melakukan personalisasi konten, mempunyai daya kreatif dan memahami trend global, kekuatan integritas terhadap pekerjaan dan profesi, serta kolaborasi,” ujar Heri Rakhmadi dihadapan para peserta Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Kurikulum Pelatihan Komunikasi Digital yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Profesi dan Sertifikasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Kementerian Komunikasi dan Informatika, di Bogor, akhir Oktober 2019.

Terkait kompetensi, menurut Heri, di dunia digital saat ini skill sets mutlak dimiliki oleh insan GPR Indonesia. Humas Indonesia harus meng-upgrade dan memiliki kompetensi teknologi dan non-teknologi yang mumpuni. Di era industri 4.0, dunia butuh praktisi humas dengan fleksibilitas dan mobilitas yang tinggi, kemampuan digital, analitik, menulis konten, membangun jaringan, serta selalu haus akan informasi terkini dan memiliki spesialisasi.

Personalisasi konten juga menjadi kunci keberhasilan bagi GPR dalam relasinya dengan publik di tengah tsunami konten dan overload informasi di dunia saat ini. Agar impactful, GPR dituntut kreatif dan mampu berkomunikasi secara personal. GPR juga dituntut lebih selektif melihat siapa target audience-nya, kanal yang digunakan, serta konten yang relevan dengan mereka. Hal yang sama ketika humas dihadapkan dalam situasi krisis dimana dibutuhkan manajemen reputasi dan kemmapuan membangun sebuah brand membutuhkan kemampuan berkomunikasi secara personal. Dengan kata lain, Humas 4.0 harus bisa menjadi produser dan publisher konten.

Selain itu, sambung Heri, terus mengasah kreativitas menjadi tuntutan utama bagi GPR agar dapat beradaptasi di era kemajuan TIK saat ini. Kreativitas di dunia humas juga berarti kemampuan memahami semua trend yang sedang terjadi di dunia misalnya fenomena video 360 CNN, live streaming, drone hingga mixed reality dari Windows. GPR harus mengombinasikan digital teknologi ini untuk berkomunikasi dengan publik.

Tentunya setiap profesi harus dilandaskan oleh integritas orang-orang yang menjalaninya, terlebuh GPR yang setiap saat bersentuhan dengan publik. Jujur dan transparan menjadi kata kunci integritas dalam dunia PR. Integritas juga menjadi saringan bagi humas agar tidak terbawa arus polemik isu mulai dari hoaks hingga berita palsu.

Selain itu, di era revolusi industri saat ini bekerja sendiri bukanlah pilihan yang bijak terlebih bagi GPR. Kolaborasi bukan sekedar meringankan pekerjaan, tetapi sudah menjelma menjadi sebuah kekuatan dan kunci keberhasilan dalam menjelankan program-program. Digital content creator, videografer, infografik, ads people, brand people hingga marketing menjadi simpul kaloborasi yang mutlak dibangun oleh GPR.

“Sebagai pemegang kunci membranding reputasi bangsa, GPR tidak akan mampu mengerjakannya sendiri tanpa berkolaborasi baik antarsesama GPR, swasta, akademisi, tokoh publik, bahkan dengan ikon-ikon millenial Indonesia,” pungkas Heri.

Kirim Pesan

Kirim masukan dan kritik anda

Alamat Kantor

Jl.Cakrawijaya II ,
Blok J Nomor 10,
Kavling Diskum Jakarta Timur

Kontak Kami

Telepon 021-859012743/44

Faximile 021-8560408

Alamat Email

bamboedoea@bamboedoea.com

www.bamboedoea.com